Sejarah Candi Borobudur dan Dinasti Syailendra
Candi Borobudur berdiri megah di kawasan Magelang Jawa Tengah sebagai salah satu monumen keagamaan paling spektakuler di dunia. Bangunan monumen batu ini bukan sekadar tempat ibadah kuno, melainkan simbol kejayaan arsitektur dan spiritual peradaban Nusantara. Memahami sejarah Candi Borobudur secara mendalam memperlihatkan betapa tingginya penguasaan seni pahat, teknik sipil, serta filosofi keagamaan masyarakat Jawa kuno pada masa lampau.
Kemegahan monumen ini menyimpan perjalanan panjang yang dipenuhi teka-teki sejarah. Mulai dari masa kejayaan pendiriannya, periode terlupakan di bawah rimbunan hutan dan abu vulkanik, hingga momen kebangkitannya kembali di panggung dunia. Ulasan berikut merangkum secara mendalam rekonstruksi pembangunan, arsitektur, filosofi, serta upaya penyelamatan monumen bersejarah ini.
Asal Usul Candi Borobudur dan Masa Kejayaan Dinasti Syailendra

Penelusuran mengenai asal usul candi borobudur membawa kita kembali ke kurun waktu abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Pada masa tersebut, wilayah Jawa Bagian Tengah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno yang diperintah oleh Dinasti Syailendra. Keluarga raja dari Dinasti Syailendra dikenal sebagai penganut agama Buddha Mahayana yang sangat taat dan memiliki perhatian besar terhadap pengembangan seni budaya.
Proses sejarah pembangunan candi borobudur diperkirakan berlangsung selama puluhan tahun, berawal dari sekitar tahun 750 Masehi hingga selesai pada era pemerintahan Raja Samaratungga sekitar tahun 825 Masehi. Dalam cerita rakyat dan tradisi lisan Jawa, nama arsitek jenius bernama Gunadharma sering disebut sebagai perancang utama monumen megah ini. Meskipun bukti tertulis mengenai tokoh Gunadarma masih terus dikaji, keahlian teknik penyusunan batu tanpa perekat semen pada monumen ini tetap diakui luar biasa.
Menariknya, pembangunan monumen Buddha berskala raksasa ini berlangsung berdampingan secara harmonis dengan pembangunan candi-candi Hindu di sekitarnya. Hal ini mencerminkan adanya semangat toleransi beragama yang sangat tinggi pada masa kejayaan kerajaan kuno di Jawa. Lebih dari dua juta blok batu andesit diangkut dari sungai sekitar Magelang dan disusun rapi membentuk struktur piramida berundak yang kokoh.
Struktur Arsitektur dan Tiga Tingkatan Filosofi Buddha
Arsitektur Candi Borobudur dirancang membentuk struktur stupa raksasa yang apabila dilihat dari atas menyerupai mandala besar dalam kosmologi Buddha. Mandala ini melukiskan alam semesta sekaligus tahapan spiritual manusia menuju pencerahan sempurna. Struktur bangunan terbagi secara harmonis menjadi tiga tingkatan utama.
Kamadhatu Tingkatan Dunia Hasrat
Bagian paling bawah dari bangunan ini disebut sebagai Kamadhatu, yang melambangkan alam bawah atau dunia manusia yang masih terikat oleh hawa nafsu dan keinginan duniawi. Pada bagian kaki monumen ini, terdapat dinding relief yang tertutup oleh struktur teras pelindung tambahan.
Dinding asli Kamadhatu memuat rangkaian Relief Karmawibhangga. Relief ini menggambarkan hukum sebab akibat atau karma, melukiskan berbagai perbuatan manusia beserta konsekuensi spiritual yang ditimbulkannya.
Rupadhatu Tingkatan Dunia Bentuk
Menuju bagian tengah, pengunjung memasuki tingkatan Rupadhatu yang terdiri dari lima teras berbentuk persegi. Tingkatan ini merepresentasikan alam antara, di mana manusia telah mampu membebaskan diri dari hawa nafsu tetapi masih terikat oleh wujud dan bentuk fisik.
Pada dinding-dinding lorong Rupadhatu, terpahat ribuan panel relief naskah suci seperti Lalitavistara, Jataka, dan Avadana yang menceritakan riwayat hidup Sang Buddha serta kisah-kisah kelahiran sebelumnya. Tak hanya itu, di sepanjang teras ini terdapat ratusan ceruk yang memuat patung Buddha dalam berbagai sikap tangan atau mudra.
Arupadhatu Tingkatan Dunia Tanpa Wujud
Tingkatan tertinggi dari monumen ini adalah Arupadhatu yang terdiri dari tiga teras melingkar di bagian puncak. Bagian ini melambangkan alam atas atau dunia tanpa wujud, tempat manusia mencapai kebebasan mutlak dan kesucian spiritual.
Di teras melingkar ini, tidak terdapat panel relief cerita. Sebagai gantinya, berdiri puluhan stupa berongga berbentuk lonceng yang menerobos pandangan. Di dalam masing-masing stupa berongga tersebut bersemayam patung Buddha. Di puncak paling atas berdiri sebuah Stupa Utama yang menjadi mahkota sekaligus simbol pencerahan tertinggi.
Kemunduran dan Misteri Terkuburnya Monumen Megah
Setelah beberapa abad menjadi pusat kegiatan keagamaan dan ziarah utama masyarakat Mataram Kuno, kejayaan monumen ini perlahan pudar. Memasuki abad ke-10 hingga abad ke-11 Masehi, kompleks candi ini mulai ditinggalkan oleh para penganutnya dan luput dari perhatian pusat kekuasaan.
Para ahli sejarah mengajukan beberapa teori utama mengenai penyebab terlantarnya tempat suci ini. Salah satu faktor utama adalah letusan dahsyat Gunung Merapi yang berulang kali memuntahkan abu vulkanik berlebih. Letusan tersebut menutup kawasan pemukiman di sekitarnya dan mengubur struktur bangunan candi selama berabad-abad.
Sementara itu, bencana alam dan letusan vulkanik mendorong Raja Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa bagian tengah menuju wilayah Jawa bagian timur pada tahun 929 Masehi. Perpindahan pusat pemerintahan ini menyebabkan pemeliharaan monumen terhenti total. Seiring berjalannya waktu, vegetasi hutan tropis yang lebat tumbuh menutupi bukit batu tersebut hingga akhirnya hilang dari catatan sejarah aktif masyarakat.
Sejarah Penemuan Kembali Candi Borobudur oleh Thomas Stamford Raffles
Meskipun tertimbun tanah dan ditumbuhi pepohonan lebat, keberadaan bukit rahasia berstruktur batu tersebut tidak sepenuhnya terlupakan dari ingatan masyarakat lokal. Warga desa di sekitarnya tetap menyimpan cerita rakyat mengenai keberadaan candi berukuran raksasa yang terkubur di bawah rimbunnya hutan Magelang.
Titik balik sejarah penemuan kembali candi borobudur terjadi pada tahun 1814 sewaktu Inggris menguasai wilayah Nusantara. Gubernur Jenderal Inggris yang bertugas saat itu, Sir Thomas Stamford Raffles, memiliki ketertarikan yang sangat tinggi terhadap sejarah, kebudayaan, dan benda purbakala Jawa. Saat melakukan kunjungan kerja ke Semarang, Raffles menerima laporan mengenai adanya runtuhan batu berukir di dekat desa Bumisegoro.
Sebagai sosok yang kerap dicatat dalam literatur sebagai penemu candi borobudur di masa modern, Raffles segera mengutus seorang insinyur teknik asal Belanda bernama H.C. Cornelius untuk memeriksa lokasi tersebut. Cornelius membawa ratusan pekerja lokal untuk menebang pepohonan, membakar semak belukar, dan menggali tanah abu vulkanik yang menimbun struktur bangunan.
Pekerjaan pembersihan bertahap tersebut berlangsung selama beberapa minggu hingga akhirnya struktur batu megah berelief indah berhasil dimunculkan kembali ke permukaan. Penemuan ini langsung menarik perhatian dunia internasional dan membuka babak baru dalam penelitian arkeologi Nusantara.
Proses Pemugaran Skala Besar dan Pengakuan Pemugaran UNESCO
Kondisi candi saat pertama kali ditemukan sangat memprihatinkan. Banyak struktur batu yang retak, bergeser, dan terancam runtuh akibat tekanan tanah serta rembesan air hujan selama ratusan tahun. Oleh karena itu, berbagai upaya penyelamatan dan restorasi mulai dirancang secara intensif.
Pemugaran secara rasional dan sistematis pertama kali dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1907 hingga 1911 di bawah pimpinan insinyur Theodor van Erp. Van Erp memimpin rekonstruksi bagian puncak stupa serta memperbaiki struktur teras melingkar. Langkah awal ini berhasil menyelamatkan banyak bagian penting bangunan dari kerusakan yang lebih parah.
Namun demikian, ancaman kerusakan struktur tanah di bawah monumen masih terus berlanjut. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mengajukan permohonan bantuan internasional untuk melakukan restorasi menyeluruh. Pemugaran skala besar kemudian dilaksanakan mulai tahun 1975 hingga 1982 atas kerja sama Pemerintah Republik Indonesia dengan badan PBB yaitu UNESCO.
Proyek monumental ini melibatkan ratusan ahli arkeologi, teknik sipil, dan pemugar dari berbagai negara. Struktur candi dibongkar batu demi batu, dibersihkan dari mikroorganisme, diperkuat bagian fondasinya dengan sistem drainase modern, lalu disusun kembali secara presisi. Sebagai bentuk pengakuan atas nilai sejarah dan arsitekturnya yang tiada tanding, kompleks Candi Borobudur resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991.
Pertanyaan Populer Seputar Sejarah Candi Borobudur
Berikut adalah deretan pertanyaan yang paling sering dicari oleh masyarakat mengenai asal usul dan perjalanan sejarah monumen ini:
Kapan Candi Borobudur pertama kali dibangun dan oleh kerajaan apa?
Pembangunan monumen ini diperkirakan dimulai sekitar tahun 750 Masehi dan selesai pada tahun 825 Masehi. Proses pendiriannya berlangsung pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno di bawah pemerintahan Dinasti Syailendra.
Siapa tokoh yang dianggap sebagai penemu Candi Borobudur pada masa modern?
Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa diakui sebagai penemu kembali monumen ini pada tahun 1814. Beliau mengutus insinyur H.C. Cornelius untuk menggali dan membersihkan lokasi situs yang terkubur.
Mengapa Candi Borobudur sempat terkubur tanah dan ditinggalkan?
Situs keagamaan ini ditinggalkan akibat kombinasi letusan vulkanik Gunung Merapi serta berpindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur pada abad ke-10. Abu vulkanik dan tumbuhnya vegetasi tropis menutupi bangunan ini selama berabad-abad.
Berapa jumlah tingkatan filosofi Buddha yang ada pada Candi Borobudur?
Monumen ini memiliki tiga tingkatan filosofi utama yang merepresentasikan alam semesta Buddha. Ketiga tingkatan tersebut adalah Kamadhatu sebagai dunia hasrat, Rupadhatu sebagai dunia bentuk, dan Arupadhatu sebagai dunia tanpa wujud.
Kapan UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia?
UNESCO secara resmi mengesahkan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1991 setelah berakhirnya proyek pemugaran besar-besaran yang berlangsung dari tahun 1975 hingga 1982.
Perjalanan sejarah Candi Borobudur memberikan gambaran nyata mengenai keagungan peradaban bangsa pada masa lampau. Dari puncak kejayaan Dinasti Syailendra, masa kemunduran akibat bencana alam, hingga proses pemugaran internasional, monumen ini terus berdiri memperlihatkan ketahanan nilai budaya dan keindahan seni arsitektur. Sebagai warisan luhur pencapaian budaya, menjaga keberlanjutan dan kelestarian situs bersejarah ini merupakan tanggung jawab bersama bagi generasi masa kini dan masa depan.
