10 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Lengkap Beserta Maknanya
Nusantara menyimpan rekam jejak peradaban bahari yang sangat megah melalui keberadaan peninggalan kerajaan sriwijaya. Sebagai salah satu kemaharajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, kerajaan ini mengontrol jalur perdagangan vital di Selat Malaka selama berabad-abad. Keberadaannya bukan sekadar cerita lisan, melainkan dibuktikan oleh berbagai penemuan prasasti batu dan situs candi yang tersebar di wilayah Sumatera hingga Bangka.
Sejarah kerajaan sriwijaya mencatat bahwa ekspansi wilayah dan pengaruh diplomasinya sangat meluas. Berbagai prasasti kuno yang ditemukan memuat tulisan beraksara Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno. Setiap batuan bersejarah tersebut menyimpan kisah ekspedisi militer, ajaran agama Buddha, hingga sumpah setia pimpinan kawasan.
Memahami rekam jejak peninggalan sejarah kerajaan sriwijaya memberikan kita gambaran utuh tentang bagaimana sistem pemerintahan, kebudayaan, dan perdagangan maritim dikelola secara profesional pada masa itu.
Prasasti Peninggalan Sriwijaya sebagai Saksi Bisu Kejayaan Maritim

Sebagian besar peninggalan kerajaan sriwijaya berupa prasasti yang memuat catatan penting mengenai peristiwa politik dan spiritual. Berikut adalah deretan prasasti utama yang menjadi bukti otentik keberadaan kemaharajaan ini.
Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di tepi Sungai Tatang dekat Palembang pada tahun 1920. Angka tahun yang tertera menunjukkan 683 Masehi. Isi prasasti ini menceritakan perjalanan suci atau siddhayatra yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Beliau membawa 20.000 tentara dengan perahu untuk menguasai daerah strategis dan membangun kemakmuran Sriwijaya.
Prasasti Talang Tuo
Ditemukan di sebelah barat Kota Palembang, Prasasti Talang Tuo berangka tahun 684 Masehi. Angka tersebut memuat informasi penting tentang pembuatan Taman Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Taman ini dibangun untuk kemakmuran seluruh rakyat dan menjadi simbol kepedulian lingkungan serta ajaran kebaikan dalam agama Buddha.
Prasasti Kota Kapur
Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka pada tahun 686 Masehi. Isinya memuat tulisan kutukan bagi siapa saja yang berani memberontak atau tidak tunduk kepada kekuasaan Sriwijaya. Keberadaan prasasti peninggalan sriwijaya ini menandai perluasan wilayah maritim hingga ke area pesisir Selat Bangka.
Prasasti Telaga Batu
Penemuan Prasasti Telaga Batu di Palembang menambah bukti ketegasan hukum kedatuan. Prasasti ini memuat sumpah serapah yang sangat terperinci bagi para pejabat, prajurit, maupun anggota keluarga kerajaan yang berniat melakukan pengkhianatan. Struktur birokrasi pemerintahan terlihat jelas dalam pahatan batu berbentuk kepala ular kobra ini.
Prasasti Karang Berahi
Ditemukan di daerah Bangko, Jambi, Prasasti Karang Berahi berangka tahun 686 Masehi. Peninggalan sejarah kerajaan sriwijaya ini memuat isi kutukan yang mirip dengan Prasasti Kota Kapur. Penemuan ini membuktikan bahwa wilayah Jambi telah berada di bawah kontrol penuh pusat pemerintahan maritim Sriwijaya.
Prasasti Palas Pasemah
Prasasti Palas Pasemah ditemukan di Lampung Selatan. Tulisan pada batu ini mengindikasikan bahwa wilayah Lampung selatan telah berhasil ditaklukkan pada akhir abad ke-7 Masehi. Hal ini bertujuan untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Sunda dari gangguan luar.
Prasasti Baturaja
Prasasti Baturaja memberikan bukti tambahan mengenai persebaran pengaruh bahasa dan aksara Melayu Kuno di pedalaman Sumatra Selatan. Prasasti ini memperkuat bukti kebesaran wilayah kekuasaan maritim yang dinamis.
Prasasti Ligor
Prasasti Ligor ditemukan di wilayah Thailand Selatan. Keberadaan prasasti ini membuktikan bahwa kekuasaan Sriwijaya tidak hanya terbatas di Nusantara, melainkan meluas hingga Semenanjung Malaya untuk mengontrol Selat Malaka.
Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Tanah Sumatra
Selain prasasti, terdapat kompleks candi peninggalan kerajaan sriwijaya yang menjadi pusat peribadatan dan pendidikan agama Buddha Vajrayana pada masanya.
Candi Muara Takus
Candi Muara Takus terletak di Kabupaten Kampar, Riau. Kompleks tempat ibadah ini memiliki arsitektur yang sangat unik karena menggunakan material batu bata merah dan batu pasir, berbeda dengan candi di Jawa yang umumnya menggunakan batu andesit. Stupa utamanya yang menjulang tinggi menjadi ciri khas utama bangunan Buddha tertua di Sumatera ini.
Candi Bahal
Candi Bahal atau Candi Portibi terletak di Padang Lawas, Sumatera Utara. Kompleks candi dengan arsitektur bata merah ini diperkirakan berasal dari abad ke-11 Masehi.Tempat ini menjadi bukti bahwa pengaruh spiritual Sriwijaya berkembang pesat hingga ke wilayah utara Sumatera.
Ringkasan Jejak Peradaban Kemaritim Sriwijaya
Keberadaan peninggalan kerajaan sriwijaya menunjukkan betapa majunya peradaban Nusantara di masa lampau. Melalui prasasti dan candi, kita dapat melihat integrasi antara kekuatan militer, perdagangan maritim, dan nilai-nilai spiritual. Seluruh peninggalan tersebut menjadi bukti nyata kejayaan kemaharajaan yang pernah menguasai Selat Malaka.
Jika Anda ingin mendalami kekayaan sejarah Nusantara secara langsung, luangkan waktu untuk mengunjungi museum dan situs cagar budaya terdekat. Mari bersama melestarikan warisan budaya leluhur agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Pertanyaan Seputar Peninggalan Bersejarah Sriwijaya
Apa Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Paling Tua?
Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 683 Masehi dianggap sebagai peninggalan tertulis tertua yang mencatat awal pembentukan struktur kekuasaan Sriwijaya.
Di Mana Pusat Kerajaan Sriwijaya Ditemukan?
Berdasarkan sebagian besar penemuan prasasti seperti Prasasti Telaga Batu dan Kedukan Bukit, para ahli sejarah menyimpulkan pusat awal pemerintahan berada di wilayah Palembang, Sumatra Selatan.
Apa Fungsi Utama Prasasti Kutukan Sriwijaya?
Prasasti kutukan seperti Prasasti Kota Kapur dan Karang Berahi berfungsi sebagai sarana legitimasi politik untuk menakut-nakuti calon pemberontak serta menjaga kestabilan wilayah taklukan.
Mengapa Candi Muara Takus Memiliki Bentuk Unik?
Candi Muara Takus memiliki arsitektur stupa yang dipengaruhi oleh gaya Asoka dari India, serta menggunakan material batu bata merah yang disesuaikan dengan kondisi geologis wilayah Riau.
Apa Agama Utama yang Dianut Kerajaan Sriwijaya?
Sriwijaya merupakan pusat pembelajaran dan penyebaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara, khususnya aliran Mahayana dan Vajrayana.
